Suatu Pagi di Hari Sabtu 27 Mei 2006


Hari ini mau upload foto-foto yang sebenarnya sih sudah lama, tapi baru sempat diposting sekarang. Isinya?? puing-puing rumah setelah di goyang paksa oleh gempa bumi tektonik berskala 5,9 SR 2 bulan yang lalu, Sabtu, 27 Mei 2006. Nggak apa-apa yaa agak basi, saya simpan di sini sebagai pengingat sekaligus penguat saya di masa depan.


Sabtu pagi, 27 Mei 2006, karena semalam baru pulang kantor pukul 01.00 dini hari, selesai subuhan saya tertidur lagi meski nggak terlalu nyenyak. Tiba-tiba saya merasa tempat tidur saya berguncang, bersamaan dengan teriakan mama dari dapur yang menyuruh saya dan adik saya keluar rumah. Guncangan terasa makin kencang, dan walaupun saya masih setengah sadar, saya tahu kalau yang saya rasakan adalah gempa bumi. Kami bertiga seakan bergerak otomatis menuju pintu depan, mama dari dapur, saya dari kamar, dan adik saya dari ruang tengah. Saya ingat saat berlari sempat menabrak sofa dan jatuh nyungsep, tapi dengan kecepatan sonic bisa langsung bangun dan berlari lagi.


30 detik setelah gempa mulai terasa kami sudah di ada luar rumah, berpelukan dengan tubuh gemetar sambil mencerna apa yang terjadi. Tapi sebelum sempat menarik napas lega, kami melihat  kepulan asap mendadak muncul dari garasi belakang, kebakaran kah? Kami cuma mentapa kepulan asap itu dari halaman depan, sambil menanti kemana arah apinya. Ternyata tidak ada api yang terlihat, dan saat kepulan yang kami pikir asap itu mereda, terlihat garasi rumah kami yang ambruk menyisakan puing.

Setelah guncangan gempa yg pertama, gempa yang berikutnya datang terus hampir tiap menit meski tidak sekuat yang pertama. Saya sempat masuk ke dalam rumah untuk berganti baju, mengambil HP, dompet, mengeluarkan motor, dan sempat juga menenteng tikar serta bantal :)

Saya mencoba tetap tenang sambil mengabari papa tentang kondisi kami, sementara adik berusaha menahan tangis dengan berdzikir sekencangnya. Mama sempat pergi mencari sarapan untuk kami, tapi bukan cuma sarapan yang dibawa pulang, melainkan berita kematian beberapa tetangga akibat tertimpa rumahnya, Innalillahi.

Saat kami mulai tenang, tetangga berteriak psnik mengabarkan kalau air laut naik dan tsunami akan segara sampai ke daerah kami (Jarak dari Parang Teritis ke rumah kami di Bantul kira-kira 13 km). Tentu saja berita ini membuat semua orang panik teringat dahsyatnyagempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004. Akibatnya banyak tetangga yang langsung memutuskan meninggalkan rumahnya menuju ke arah kota di utara. Dan kepanikan ini menular, kami juga ikut-ikutan meninggalkan rumah menuju ke arah kota Jogja. Saya dan mama berboncengan motor, sementara adik saya dengan sepedanya.

Situasi di jalan raya Bantul benar-benar kacau, motor dan mobil berhamburan saling salip dan tikung, saya beberapa kali hampir bertabrakan dengan sesama pengendara motor. Kekacauan ini membuat kami terpisah, adik saya tiba-tiba hilang dari sisi kami. Alhasil saat semua orang panik berusaha menuju kota Jogja di utara, saya dan mama malah putar balik ke selatan mencari adik saya.

Kami berjalan melawan arus pelan-pelan, sambil memperhatikan semua orang satu persatu, berharap menemukan adik saya dan sepeda merahnya. Di sini kami baru menyadari betapa mengerikannya dampak gempa barusan.Jalan yang kami lewati  retak di beberapa bagian, rumah-rumah roboh tidak berbentuk lagi, yang paling menyedihkan banyak orang penuh luka tapi tetap berusaha lari, ada juga yang hanya bisa pasrah tergeletak di pinggir jalan.

Dari papa di Aceh saya diberitahu kalau di TV Nasional tidak ada berita air laut naik, apalagi tsunami, lagipula pantai selatan Jogja memiliki deretan gumuk pasir yang akan menahan air laut, jadi kalaupun terjadi tsunami tidak akan setinggi di Aceh. Papa menyuruh kami pulang dan bertahan di rumah saja sampai bantuan makanan datang. Saat ini papa sedang berusaha meminta bantuan temannya di Boyolali untuk mengirimi kami makanan.

Akhirnya, sambil melanjutkan mencari adik, kami pulang. Alhamdulillah nggak lama setelah kami sampai di rumah, adik saya datang. Ternyata dia mengikuti tetangga kami lari sampai Bukit Sempu yg jauhnya 7 kilo. Si anak 13 tahun ini bersepeda pergi-pulang sendirian di tengah perasaan sedih, takut, dan suasana kacau, sampai nggak sadar kalau sandalnya putus. Proud of you, dek :)

Papa benar, tsunami tidak pernah datang dan kami bisa tenang, tetangga yang pergi pun datang kembali satu persatu. Kami yang kelelahan dan mencoba tidur dengan tikar di bawah pohon di halaman rumah. Dan kira-kira jam 12 siang teman papa datang membawakan banyak makanan jadi sekaligus bahan makanan.  

Sampai malam datang yang lewat di sepanjang jalan raya Bantul hanya ambulans dan truk yg penuh korban luka atau meninggal, bau amis di mana-mana, listrik ikut mati dan hujan turun sangat deras. Malam itu kami tidur di garasi depan bersama tetangga yang rumahnya roboh tanpa sisa, beberapa dari mereka juga terluka tapi tidak bisa ditampung di rumah sakit. Meski tidur di garasi beralas tikarr dan sleeping bag, malam ini saya belajar betapa jarak hidup dan mati sangatlah dekat, dan saat ini saya nggak mau melakukan apapun selain bersyukur kepada Allah, karena perlindungan-Nya kami bertiga selamat tanpa luka sedikit pun. 

Hanya dalam waktu kurang dari 1 menit banyak garis kehidupan yang berubah, pastinya kehidupan kami juga akan berubah, kami nggak punya rumah, roboh tanpa bisa ditempati lagi, tapi selama kami masih bertiga, semua halpasti akan terasa jauh lebih ringan, Bismillah..

Gempa Jogja 2006
Rumah kami sebelum gempa, bangunan di pojok kiri belakang itu garasi.


Gempa Jogja 2006
Garasi belakang yang ambruk


Gempa Jogja 2006
Gempa Jogja 2006
Gempa Jogja 2006
Lorong di belakang ke arah garasi


Gempa Jogja 2006
Gempa Jogja 2006
Tembok rumah bagian belakang


Gempa Jogja 2006

Tendaku Istanaku

Ini tenda tempat tinggal kami pasca gempa. Keren ya? Tahun 2006 sudah ada tendap yang punya tiga kamar tidur terpisah, lengkap dengan pintu kelambunya, dijamin aman dari gempuran nyamuk-nyamuk, dan ruang tengahnya masih cukup untuk kumpul keluarga kecil-bahagia-sejahtera :)

Gempa Jogja 2006
Tampak luar kami dari luar

Gempa Jogja 2006
Ini kamar saya, ada kasur dan kipas anginnya, bisa nonton TV juga

Gempa Jogja 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik ya temans, maaf sementara saya moderasi dulu :)