Monday, April 22, 2019

Menyapa Matahari Pagi Bromo Dari Seruni Point

seruni point penanjakan 2 bromo tengger semeru

Kabut tebal mulai merayap turun menyentuh kaki perbukitan Tengger saat mobil kami memasuki Desa Ngadisari, sebuah desa yang termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana Tiga (KRB 3) Gunung Penanjakan, di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sebenarnya kami ragu apakah itu betul kabut atau malah abu vulkanik, karena memang sudah satu minggu Gunung Bromo mengalami erupsi dan berstatus waspada. Lha sudah tau erupsi kok malah nekad ke situ?

Yaa karena kami memang mau uji nyali, huahahaa...

Nggak deng.

Tujuan perjalanan kami kemarin karena suami harus mengurus proyek di Jember, sekaligus mengantar mama saya mudik ke Lumajang. Kebetulan, rumah mama nggak terlalu jauh dari Gunung Penanjakan dan searah dengan rute pulang kami. Jadi sebelum kembali ke Jogja, kami memutuskan mampir melihat matahari terbit di Bromo yang konon termasuk salah satu dari beberapa sunrise terindah di dunia.

Baca juga Hutan Pinus Pengger, Lantai Duanya Jogja Yang Romantis

Seruni Point Penanjakan 2 Bromo
Sunrise di Bromo, dilihat dari Seruni Point

Seruni Point, Penanjakan Dua, Bromo


Bagi yang belum tahu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mempunyai beberapa titik untuk menikmati sunrise. Titik pertama dan kedua adalah Bukit Cinta dan Bukit Kingkong yang terletak di Pasuruan. Kedua bukit ini memiliki ketinggian sekitar 2.600 mdpl yang membuat kita bisa melihat Gunung Bromo, Gunung Kursi, Watangan, Gunung Widodaren, lautan pasir dan Puncak Mahameru.

Sayangnya, dari Bukit Cinta, pemandangan ke arah kawah Gunung Bromo sedikit terhalang oleh posisi Gunung Batok.

Baca juga Puncak B29 dan Rindu Yang Tersimpan 

Titik selanjutnya adalah Gunung Penanjakan atau bisa juga disebut Pananjakan. Dari sini kita bisa menikmati Kaldera Tengger, yaitu Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, lautan pasir, dan Gunung Semeru di kejauhan.

Puncak Gunung Penanjakan memiliki ketinggian 2.770 mdpl, lebih tinggi dibanding Bukit Cinta dan Bukit Kingkong, karena itu Gunung Penanjakan lebih disukai sebagian besar wisatawan untuk menikmati matahari terbit sekaligus hamparan gemintang Bima Sakti. Pemandangan ke arah Kawah Bromo juga tidak terhalang Gunung Batok seperti di Bukit Cinta atau Bukit Kingkong.


Gunung Bromo dari Seruni Point
Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Puncak Semeru dilihat dari Gunung Penanjakan
Can you spot Pura Luhur Poten near Mount Batok?

Meski lebih tinggi, Di Gunung Penanjakan ada dua titik dengan ketinggian berbeda yang disebut Penanjakan 1 dan Penanjakan 2. Jika Penanjakan 1 berada di puncak Gunung, maka Penanjakan 2 terletak lebih rendah di ketinggian 2.400 mdpl. Tapi masih tetap lebih tinggi dari Gunung Bromo yang hanya setinggi 2.329 mdpl sih.

Pada pertengahan Bulan Desember 2018, Penanjakan 2 yang juga sering disebut Seruni Point mengalami pemugaran oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan biaya fantastis sebesar 5 miliar rupiah bersumber dari APBN.

Baca juga 4 Tempat Wisata Cantik di Gunungkidul Yang Cuma Berjarak 1 Jam Dari Kota Jogja

Seruni Poin, Penanjakan 2 

256 anak tangga dengan panjang sekitar 350 meter dibangun megah menuju Puncak Seruni Point. Agar tidak terlalu memberatkan pengunjung, 256 anak tangga ini diselingi dengan 7 bordes atau tempat datar sebagai tempat beristirahat sejenak.

Buat kami yang membawa anak 5 tahun, melihat Bromo melalui Seruni Point jelas lebih memudahkan karena nggak harus melewati jalur tracking berbatu dan tanah licin. Fasilitas umum seperti toilet, mushalla, dan warung mie instan (penting!!) juga tersedia lengkap di sini.

Seruni Point Penanjakan 2 Bromo
Tangga menuju puncak Seruni Point

Tapi, walau jalurnya aman, tetap saja butuh perjuangan untuk mencapai Puncak Seruni. Karena sebelum menempuh 256 anak tangga pengunjung harus melewati tanjakan curam berkelok yang justru lebih berat daripada tangganya sendiri.

Tidak ada kendaraan bermotor yang boleh melalui tanjakan ini (dulu sih katanya masih boleh), jadi pilihannya hanya jalan kaki atau menyewa kuda. Pilihan yang sulit buat kami karena saya takut kuda, tapi kasihan juga kalau memaksa Raya yang baru 5 tahun  untuk berjalan kaki, kan setelah ini dia masih harus naik tangga.

Tanjakan jahat yang bikin jantung copot
Photo: Kompasiana

Akhirnya kami menyewa dua kuda berboncengan, karena meski kudanya dituntun si pemilik kuda, tetap saja kami nggak tega melepas anak-anak berkuda sendirian di tanjakan dan kelokan curam.

Terus gimana rasanya naik kuda di jalur seperti itu? Luaarrr biyasaaah hahahaah, saya ceritakan di postingan terpisah saja deh biar lebih greget. Selanjutnya teman-teman bisa lihat tulisan saya tentang Rute dan Biaya Menuju Seruni Point Bromo

Di situ saya sudah jelaskan detail rute, penginapan, dan semua biaya yang kami habiskan selama 2 hari 1 malam. Tenang aja, nggak mahal kok, karena penginapan kami hanya berjarak 5 km dari Seruni Point, tarif hotel dan biaya sewa jeep jadi lebih murah.

Seruni Point Penanjakan 2 Bromo

1 comment:

  1. Wuihhh... pemandangannya bikin saya ngak tahan liatnya... soalnya menarik sekali, hahahah......saya belum pernah kesana maklum lokasinya jauh dari Sumatera.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik ya temans, maaf sementara saya moderasi dulu :)