Monday, March 25, 2019

Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Saksi Keindahan Toleransi Islam dan Hindu


Alas Mentaok, sebuah hutan di tengah pulau Jawa menjadi saksi lahirnya Kerajaan Mataram Islam di abad ke-16. Saat seorang ksatria digdaya berjuluk Ki Ageng Pemanahan berhasil mengalahkan musuh besar Kesultanan Pajang. Atas jasanya, Sultan Pajang menghadiahkan wilayah hutan ini kepada sang ksatria. 

Alas Mentaok bukanlah hutan biasa. Di tempat ini, pada abad ke-8 pernah berdiri pusat Kerajaan Mataram Hindu yang berkuasa atas seluruh Pulau Jawa. Kerajaan besar dengan peradaban luar biasa hingga mampu membangun candi megah seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur.


Setelah keruntuhan bumi Mataram pada tahun 929, pusat kerajaannya ditinggalkan rakyat dan menjadi sepi hingga akhirnya tertutupi hutan lebat. Masyarakat sekitar menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok. Di tangan Ki Ageng Pemanahan, Alas Mentaok bertumbuh menjadi desa yang sangat makmur bernama Desa Mataram

Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, putranya Sutawijaya melanjutkan garis kepemimpinan Desa Mataram, hingga akhirnya berhasil menjadi Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya naik tahta dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga. Beliau menjalankan roda pemerintahan di ibukotanya yang bernama Kotagede.

Kini, Mataram Islam hanya tersisa dalam dongeng babad tanah jawi. Namun ibukotanya tetap mampu bertahan, menjadi penanda kemegahan peradaban ratusan tahun lampau sekaligus menjadi jembatan penghubung modernitas masa kini dengan kejayaan berabad silam.

Kotagede. Sang ibukota kerajaan ini telah berubah menjadi sebuah kecamatan di sisi tenggara kota Jogjakarta. Tapi sisa-sisa kemegahan Mataram Islam masih bisa ditemukan dengan mudah disetiap sudutnya. 

Struktur bangunan publik dan rumah-rumah penduduk yang berada di Kotagede jelas berbeda dengan bangunan rumah di Jogja pada umumnya. Demikian juga dengan tata kota di kawasan perkampungannya. Rumah penduduk di dalam gang-gang kecil memiliki berbagai macam bentuk dan desain khas jawa kuno, kebanyakan masih dikelilingi tembok yang tebal dan tinggi, menandakan fungsinya sebagai pertahanan pada masa Kerajaan Mataram Islam. Bekas reruntuhan benteng dan prasasti pun terlihat di sana sini.

"Menyusuri Kotagede membawaku pada bayangan kemegahan budaya Hindu dan Islam sekaligus. Setiap gang kecil yang kulalui bagai labirin waktu, sebuah saksi sejarah yang tetap hidup bahkan terus tumbuh hingga kini." 

Katanya, sudut-sudut terbaik yang ada di Kotagede akan terasa lebih syahdu jika dinikmati sambil berjalan kaki, meski untuk itu aku harus bisa berdamai dengan matahari kota Jogja yang katanya ada dua, bahkan kadang-kadang tiga.


Masjid Gedhe Mataram Kotagede


Dan tujuan pertama kami saat memutuskan blusukan di Kotagede adalah Masjid Gedhe Mataram, biasa juga disebut Masjid Besar Mataram atau Masjid Agung Kotagede

Masjid Agung Kotagede terpilih sebagai tujuan pertama karena masjid ini memilki halaman dan lahan parkir yang luas, jadi kami nggak akan khawatir dengan keamanan kendaraan selama menyusuri Kotagede nanti.


Sebagai ibukota Kerajaan Islam terbesar di tanah jawa, Kotagede memiliki Masjid yang menjadi salah satu bangunan terpenting di masanya. Dan setelah kejayaan Kerajaan Mataram Islam tinggal sejarah, Masjid Gedhe Mataram di Kotagede masih tetap berdiri kokoh sekaligus meneduhkan.


Pada masa kekuasaannya, Panembahan Senopati sempat mendirikan sebuah langgar (mushala) yang kemudian dilanjutkan pembangunannya menjadi masjid oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, cucu sang Panembahan. Sultan Agung membangun Masjid Gedhe Mataram dengan bantuan rakyat setempat yang kebanyakan masih beragama Hindu. Kerjasama saat membangun inilah yang membuat struktur bangunan masjid menyerap dua unsur budaya dua agama yang berbeda. Sungguh sebuah pesan toleransi yang indah :)

Baca juga Gedung Agung Istana Kepresidenan Yogyakarta, Saksi Bisu Perjuangan Pangeran Diponegoro Hingga Jenderal Soedirman


Bentuk bangunannya memang tidak semegah masjid-masjid modern, tapi perpaduan unsur budaya Islam dan Hindu di tiap sudut bangunannya membuat Masjid Gedhe Mataram ini terlihat unik. Mulai dari pintu gerbang yang berupa gapura paduraksa hingga bangunan utamanya yang berbentuk limasan dengan atap yang berbentuk limas dan terbagi menjadi dua bagian inti dan serambi.

Tepat di bagian depan gapura, terdapat tembok berbentuk huruf L berhias pahatan lambang-lambang kerajaan. Gapura paduraksa dan tembok L dibuat oleh Sultan Agung sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat Kotagede yang ikut membangun masjid.

Gapura Padukara dan tembok L sebagai pintu gerbang Masjid Gedhe Mataram

Saat memasuki halaman Masjid kita akan langsung menemukan sebuah pohon beringin tua yang dijuluki 'Wringin Sepuh' dan konon sudah berusia ratusan tahun. Sebagian masyarakat masih menganggap pohon beringin itu sakral dan diyakini akan membawa berkah pada siapa saja yang bertapa di bawahnya.

Di dalam kompleks masjid juga terdapat prasasti berwarna hijau yang merupakan tanda kalau Sultan Paku Buwono dari Surakarta pernah merenovasi masjid ini. Bangunan setinggi tiga meter ini memilki alas berbentuk bujur sangkar dengan mahkota berlanbang Kasunanan Surakarta di bagian atasnya. Di bagian tengahnya terdapat bergambarkan peta dunia sebagai acuan waktu salat.


Seperti kebanyakan masjid-masjid kuno di tanah jawa, tidak ada bulan sabit dengan lafaz Allah yang menghiasi pucuk atap Masjid Gedhe Mataram, tapi ada sebuah mahkota berukuran besar berhias ornamen seperti daun simbar. Mahkota besar itu melambangkan hurup alif atau angka 1 yang menyimbolkan ke-Esa-an Allah SWT.

Sayangnya, saat kami berkunjung ke sini, di bagian dalam masjid sedang dilaksanakan acara ijab kabul pernikahan. Setelah upacara pernikahan selesai, masjid langsung dipersiapkan untuk waktu Shalat Jumat, jadi kami tidak bisa melihat ke dalam masjid :(

Masjid Gedhe Mataram masih berada di kompleks yang sama dengan Makam Raja-Raja Mataram, termasuk makam Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati. Jadi kita bisa langsung mengunjungi dua tempat sekaligus jika berkunjung ke sini.

Baca juga Berburu Dekorasi Rumah dan Properti Foto di Pasar Beringharjo Yogyakarta

Cerita tentang Makam Raja-Raja Mataram akan berlanjut di tulisan berikutnya. Nggak cuma Makam Raja-Raja saja sih, akan ada juga cerita tentang Masjid Perak Kotagede, Pasar Legi, dan sudut-sudut gang kecil di sekitar Kotagede, tunggu yaa :)


Masjid Gedhe Mataram
Jl. Masjid Mataram, Sayangan, Jagalan
Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55192









1 comment:

  1. Pernah ke Kotagede untuk penelitian pengrajin perak tapi enggak ngeh kalau ada masjid sekeren ini...bagus sekali ini ada nilai sejarahnya. Semoga lain kali bisa singgah juga saya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkomentar dengan baik ya temans, maaf sementara saya moderasi dulu :)